Sabtu, 26 Januari 2013

ISU TERAPI KOMPLEMENTER DALAM KEPERAWATAN DAN SOLUSINYA


Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1109 Tahun 2007 tentang penyelenggaraan pengobatan komplementer sebagai alternatif di fasilitas pelayanan kesehatan. Menurut aturan itu, pelayanan komplementer-alternatif dapat dilaksanakan secara sinergi, terintegrasi, dan mandiri di fasilitas pelayanan kesehatan. Pengobatan itu harus aman, bermanfaat, bermutu, dan dikaji institusi berwenang sesuai dengan ketentuan berlaku. 
Di dalam salah satu pasal dari Permenkes tersebut menyebutkan bahwa pengobatan tradisional dapat dilaksanakan dan diterapkan pada sarana pelayanan kesehatan sebagai pengobatan alternatif di samping pelayanan kesehatan pada umumnya. Di dalam pasal lain disebutkan bahwa pengobatan tradisional komplementer dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki keahlian/keterampilan di bidang terapi radisional atau oleh tenaga lain yang telah memperoleh pendidikan dan pelatihan. Sementara pendidikan dan pelatihan dilakukan sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku. Penggunaan obat tradisional (herbal) merupakan bagian dari pengelolaan pelayanan keperawatan komunitas dalam rangka meningkatkan kesehatan individu, kelompok dan komunitas (Stoner, 1982 dalam Mulyadi, 2005; Stanhope & Lancaster, 1996). Termasuk didalamnya pelayanan keperawatan di komunitas yang membutuhkan peningkatan kesehatan dengan menggunakan obat-obatan dari tanaman disekitarnya, yang teentunya harga murah, mudah dan lebih terjangkau oleh lapisan masyarakat. Atau kebutuhan masyarakat untuk menggunakan terapi komplementer misalnya obat tradisionil yang sudah diracik.
Jenis metode dalam terapi komplementer lainya seperti akupuntur, chiropractic, pijat refleksi, yoga, homeopati, terapi polaritas atau reiki, teknik-teknik relaksasi, termasuk hipnoterapi, meditasi, visualisasi, tanaman obat herbal dan sebagainya. Obat- obat yang digunakan bersifat natural/ mengambil bahan dari alam, seperti jamu-jamuan, rempah yang sudah dikenal (jahe, kunyit, temu lawak dan sebagainya) Dengan pendekatan teori trunskultural perawat dapat memanfaatkan terapi ini dalam melaksanakan praktiknya. Tetapi dalam pelaksanaannya harus dilakukan oleh seorang dibawah lisensi (telah mempunyai sertifikat resmi). Sebagaimana yang dirumuskan oleh Cushman dan Hoffman, 2001 "The authors provide an overview of complementary and alternative medicine and three modalities commonly encountered and occasionally practiced by nurses and other licensed health care professionals: acupuncture, Reiki, and botanical healing. (Cushman,Hoffman, 2001) Pelayanan keperawatan yang profesional harus dapat dibuktikan dan disarakan dampak positifnya oleh klien. Dampak dari pelayanan keperawatan tervalidasi dengan indikator yang jelas dan terukur. Indikator dalam memberikan pelayanan keperawatan yang berkwalitas adalah sebagai berikut: 1) Jaminan keamanan dan perlindungan klien dari tindakan perawat (Patient safety), 2) Kenyamanan, 3) Penambahan Pengetahuan, 4) Kepuasan akan pelayanan keperawatan, 5) memberdayakan klien sesuai potensi yang dimiliki (Self care), 5) Jaminan terhadap intervensi keperawatan yang diberikan sehingga mengurangi kecemasan. Diperlukan tenaga keperawatan kompeten yang di tandai dengan bukti lisensi (sertifikat kompetensi) dalam mengimplementasikan herbal dalam praktik keperawatan.

Minggu, 05 Agustus 2012

List NANDA I 2012-2014


International Considerations on the Use of the NANDA-I 2012-2014
Taxonomy of Nursing Diagnoses by T. Heather Herdman

Domain 1: Health Promotion
Class 1: Health Awareness
Deficient Diversional Activity (00097)
Sedentary Lifestyle (00168)
Class 2: Health Management
Deficient Community Health (00215)
Risk-Prone Health Behavior (00188)
Ineffective Health Maintenance (00099)
Readiness for Enhanced Immunization Status (00186)
Ineffective Protection (00043)
Ineffective Self-Health Management (00078)
Readiness for Enhanced Self-Health Management (00162)
Ineffective Family Therapeutic Regimen Management (00080)

Domain 2: Nutrition
Class 1: Ingestion
Insufficient Breast Milk (00216)
Ineffective Infant Feeding Pattern (00107)
Imbalanced Nutrition: Less Than Body Requirements (00002)
Imbalanced Nutrition: More Than Body Requirements (00001)
Readiness for Enhanced Nutrition (00163)
Risk for Imbalanced Nutrition: More Than Body Requirements (00003)
Impaired Swallowing (00103)
Class 2: Digestion
Class 3: Absorption
Class 4: Metabolism
Risk for Unstable Blood Glucose Level (00179)
Neonatal Jaundice (00194)
Risk for Neonatal Jaundice (00230)
Risk for Impaired Liver Function (00178)
Class 5: Hydration
Risk for Electrolyte Imbalance (00195)
Readiness for Enhanced Fluid Balance (00160)
Defi cient Fluid Volume (00027)
Excess Fluid Volume (00026)
Risk for Deficient Fluid Volume (00028)
Risk for Imbalanced Fluid Volume (00025)

Domain 3: Elimination and Exchange
Class 1: Urinary Function
Functional Urinary Incontinence (00020)
Overflow Urinary Incontinence (00176)
Reflex Urinary Incontinence (00018)
Stress Urinary Incontinence (00017)
Urge Urinary Incontinence (00019)
Risk for Urge Urinary Incontinence (00022)
Impaired Urinary Elimination (00016)
Readiness for Enhanced Urinary Elimination (00166)
Urinary Retention (00023)
Class 2: Gastrointestinal Function
Constipation (00011)
Perceived Constipation (00012)
Risk for Constipation (00015)
Diarrhea (00013)
Dysfunctional Gastrointestinal Motility (00196)
Risk For Dysfunctional Gastrointestinal Motility (00197)
Bowel Incontinence (00014)
Class 3: Integumentary Function
Class 4: Respiratory Function
Impaired Gas Exchange (00030)

Domain 4: Activity/Rest
Class 1: Sleep/Rest
Insomnia (00095)
Sleep Deprivation (00096)
Readiness for Enhanced Sleep (00165)
Disturbed Sleep Pattern (00198)
Class 2: Activity/Exercise
Risk for Disuse Syndrome (00040)
Impaired Bed Mobility (00091)
Impaired Physical Mobility (00085)
Impaired Wheelchair Mobility (00089)
Impaired Transfer Ability (00090)
Impaired Walking (00088)
Class 3: Energy Balance
Disturbed Energy Field (00050)
Fatigue (00093)
Wandering (00154)
Class 4: Cardiovascular/Pulmonary Responses
Activity Intolerance (00092)
Risk for Activity Intolerance (00094)
Ineffective Breathing Pattern (00032)
Decreased Cardiac Output (00029)
Risk for Ineffective Gastrointestinal Perfusion (00202)
Risk for Ineffective Renal Perfusion (00203)
Impaired Spontaneous Ventilation (00033)
Ineffective Peripheral Tissue Perfusion (00204)
Risk for Decreased Cardiac Tissue Perfusion (00200)
Risk for Ineffective Cerebral Tissue Perfusion (00201)
Risk for Ineffective Peripheral Tissue Perfusion (00228)
Dysfunctional Ventilatory Weaning Response (00034)
Class 5: Self-Care
Impaired Home Maintenance (00098)
Readiness for Enhanced Self-Care (00182)
Bathing Self-Care Defi cit (00108)
Dressing Self-Care Deficit (00109)
Feeding Self-Care Deficit (00102)
Toileting Self-Care Deficit (00110)
Self-Neglect (00193)

Domain 5: Perception/Cognition
Class 1: Attention
Unilateral Neglect (00123)
Class 2: Orientation
Impaired Environmental Interpretation Syndrome (00127)
Class 3: Sensation/Perception
Class 4: Cognition
Acute Confusion (00128)
Chronic Confusion (00129)
Risk for Acute Confusion (00173)
Ineffective Impulse Control (00222)
Deficient Knowledge (00126)
Readiness for Enhanced Knowledge (00161)
Impaired Memory (00131)
Class 5: Communication
Readiness for Enhanced Communication (00157)
Impaired Verbal Communication (00051)

Domain 6: Self-Perception
Class 1: Self-Concept
Hopelessness (00124)
Risk for Compromised Human Dignity (00174)
Risk for Loneliness (00054)
Disturbed Personal Identity (00121)
Risk for Disturbed Personal Identity (00225)
Readiness for Enhanced Self-Concept (00167)
Class 2: Self-Esteem
Chronic Low Self-Esteem (00119)
Situational Low Self-Esteem (00120)
Risk for Chronic Low Self-Esteem (00224)
Risk for Situational Low Self-Esteem (00153)
Class 3: Body Image
Disturbed Body Image (00118)

Domain 7: Role Relationships
Class 1: Caregiving Roles
Ineffective Breastfeeding (00104)
Interrupted Breastfeeding (00105)
Readiness for Enhanced Breastfeeding (00106)
Caregiver Role Strain (00061)
Risk for Caregiver Role Strain (00062)
Impaired Parenting (00056)
Readiness for Enhanced Parenting (00164)
Risk for Impaired Parenting (00057)
Class 2: Family Relationships
Risk for Impaired Attachment (00058)
Dysfunctional Family Processes (00063)
Interrupted Family Processes (00060)
Readiness for Enhanced Family Processes (00159)
Class 3: Role Performance
Ineffective Relationship (00223)
Readiness for Enhanced Relationship (00207)
Risk for Ineffective Relationship (00229)
Parental Role Conflict (00064)
Ineffective Role Performance (00055)
Impaired Social Interaction (00052)

Domain 8: Sexuality
Class 1: Sexual Identity
Class 2: Sexual Function
Sexual Dysfunction (00059)
Ineffective Sexuality Pattern (00065)
Class 3: Reproduction
Ineffective Childbearing Process (00221)
Readiness for Enhanced Childbearing Process (00208)
Risk for Ineffective Childbearing Process (00227)
Risk for Disturbed Maternal–Fetal Dyad (00209)

Domain 9: Coping/Stress Tolerance
Class 1: Post-Trauma Responses
Post-Trauma Syndrome (00141)
Risk for Post-Trauma Syndrome (00145)
Rape-Trauma Syndrome (00142)
Relocation Stress Syndrome (00114)
Risk for Relocation Stress Syndrome (00149)
Class 2: Coping Responses
Ineffective Activity Planning (00199)
Risk for Ineffective Activity Planning (00226)
Anxiety (00146)
Defensive Coping (00071)
Ineffective Coping (00069)
Readiness for Enhanced Coping (00158)
Ineffective Community Coping (00077)
Readiness for Enhanced Community Coping (00076)
Compromised Family Coping (00074)
Disabled Family Coping (00073)
Readiness for Enhanced Family Coping (00075)
Death Anxiety (00147)
Ineffective Denial (00072)
Adult Failure to Thrive (00101)
Fear (00148)
Grieving (00136)
Complicated Grieving (00135)
Risk for Complicated Grieving (00172)
Readiness for Enhanced Power (00187)
Powerlessness (00125)
Risk for Powerlessness (00152)
Impaired Individual Resilience (00210)
Readiness for Enhanced Resilience (00212)
Risk for Compromised Resilience (00211)
Chronic Sorrow (00137)
Stress Overload (00177)
Class 3: Neurobehavioral Stress
Autonomic Dysreflexia (00009)
Risk for Autonomic Dysreflexia (00010)
Disorganized Infant Behavior (00116)
Readiness for Enhanced Organized Infant Behavior (00117)
Risk for Disorganized Infant Behavior (00115)
Decreased Intracranial Adaptive Capacity (00049)

Domain 10: Life Principles
Class 1: Values
Readiness for Enhanced Hope (00185)
Class 2: Beliefs
Readiness for Enhanced Spiritual Well-Being (00068)
Class 3: Value/Belief/Action Congruence
Readiness for Enhanced Decision-Making (00184)
Decisional Conflict (00083)
Moral Distress (00175)
Noncompliance (00079)
Impaired Religiosity (00169)
Readiness for Enhanced Religiosity (00171)
Risk for Impaired Religiosity (00170)
Spiritual Distress (00066)
Risk for Spiritual Distress (00067)

Domain 11: Safety/Protection
Class 1: Infection
Risk for Infection (00004)
Class 2: Physical Injury
Ineffective Airway Clearance (00031)
Risk for Aspiration (00039)
Risk for Bleeding (00206)
Impaired Dentition (00048)
Risk for Dry Eye (00219)
Risk for Falls (00155)
Risk for Injury (00035)
Impaired Oral Mucous Membrane (00045)
Risk for Perioperative Positioning Injury (00087)
Risk for Peripheral Neurovascular Dysfunction (00086)
Risk for Shock (00205)
Impaired Skin Integrity (00046)
Risk for Impaired Skin Integrity (00047)
Risk for Sudden Infant Death Syndrome (00156)
Risk for Suffocation (00036)
Delayed Surgical Recovery (00100)
Risk for Thermal Injury (00220)
Impaired Tissue Integrity (00044)
Risk for Trauma (00038)
Risk for Vascular Trauma (00213)
Class 3: Violence
Risk for Other-Directed Violence (00138)
Risk for Self-Directed Violence (00140)
Self-Mutilation (00151)
Risk for Self-Mutilation (00139) 451
Risk for Suicide (00150)
Class 4: Environmental Hazards
Contamination (00181)
Risk for Contamination (00180)
Risk for Poisoning (00037)
Class 5: Defensive Processes
Risk for Adverse Reaction to Iodinated Contrast Media (000218)
Latex Allergy Response (00041)
Risk for Allergy Response (00217)
Risk for Latex Allergy Response (00042)
Class 6: Thermoregulation
Risk for Imbalanced Body Temperature (00005)
Hyperthermia (00007)
Hypothermia (00006)
Ineffective Thermoregulation (00008)

Domain 12: Comfort
Class 1: Physical Comfort
Class 2: Environmental Comfort
Class 3: Social Comfort
Impaired Comfort (00214)
Readiness for Enhanced Comfort (00183)
Nausea (00134)
Acute Pain (00132)
Chronic Pain (00133)
Social Isolation (00053)

Domain 13: Growth/Development
Class 1: Growth
Risk for Disproportionate Growth (00113)
Class 2: Development
Delayed Growth and Development (00111)
Risk for Delayed Development (00112)

Nursing Diagnoses Retired from the NANDA-I Taxonomy 2009–2014
Health-seeking Behaviors (00084) – Retired 2009–2011
Disturbed Sensory Perception (Specify: Visual, Auditory,
Kinesthetic, Gustatory, Tactile, Olfactory) (00122) –Retired 2012–2014

Selasa, 15 Mei 2012

PEMANFAATAN SEMANGKA DAN MENGKUDU UNTUK PENINGKATAN KESEHATAN MASYARAKAT


I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penggunaan bahan alam, baik sebagai obat maupun tujuan lain cenderung meningkat, terlebih dengan adanya isu back to nature serta krisis berkepanjangan yang mengakibatkan turunnya daya beli masyarakat.
Obat tradisional dan tanaman obat banyak digunakan masyarakat menengah kebawah terutama dalam upaya preventif, promotif dan rehabilitatif. Sementara ini banyak orang beranggapan bahwa penggunaan tanaman obat atau obat tradisional relatif lebih aman dibandingkan obat sintesis.
Walaupun demikian bukan berarti tanaman obat atau obat tradsional tidak memiliki efek samping yang merugikan, bila penggunaannya kurang tepat. Agar penggunaannya optimal, perlu diketahui informasi yang memadai tentang kelebihan dan kelemahan serta kemungkinan penyalahgunaan obat tradisional dan tanaman obat.
Dengan informasi yang cukup diharapkan masyarakat lebih cermat untuk memilih dan menggunakan suatu produk obat tradisional atau tumbuhan obat dalam upaya kesehatan.
B. Permasalahan:
Bagaimana pemanfaatan tanaman semangka dan mengkudu dalam meningkatkan kesehatan masyarakat?
C. Tujuan:
Mendapatkan informasi mengenai manfaat semangka dan mengkudu sebagai upaya meningkatkan kesehatan masyarakat
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Obat Tradisional
Obat tradisional adalah obat jadi atau ramuan bahan alam yang berasal dari tumbuhan, hewan, mineral, sediaan galenik atau campuran bahan-bahan tersebut yang secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman (Zein, 2005).
Obat tradisional ini (baik berupa jamu maupun TO) masih banyak digunakan oleh masyarakat, terutama dari kalangan menengah kebawah. Bahkan dari masa ke masa OT mengalami perkembangan yang semakin meningkat, terlebih dengan munculnya isu kembali ke alam (back to nature) serta krisis yang berkepanjangan (Katno dan Pramono, 2007).
B. Tanaman Obat
Tanaman obat didefinisikan sebagai jenis tanaman yang sebagian, seluruh tanaman dan atau eksudat tanaman tersebut digunakan sebagai obat, bahan, atau ramuan obat-obatan (Hapsoh dan Rahmawati, 2007).
Pada kenyataannya bahan obat alam yang berasal dari tumbuhan porsinya lebih besar dibandingkan yang berasal dari hewan atau mineral, sehingga sebutan obat tradisional (OT) hampir identik dengan tanaman obat karena sebagian besar OT berasal dari TO (Mustofa, 2008).
Menurut Hapsoh dan Rahmawati (2007),  beberapa ahli mengelompokkan tanaman berkhasiat obat menjadi tiga kelompok, yaitu :
1. Tumbuhan obat tradisional merupakan spesies tumbuhan yang diketahui atau
dipercayai masyarakat memiliki khasiat obat dan telah digunakan sebagai bahan
baku obat tradisional.
2. Tumbuhan obat modern merupakan spesies tumbuhan yang secara ilmiah telah
dibuktikan mengandung senyawa atau bahan bioaktif yang berkhasiat obat dan
penggunaannya dapat dipertanggungjawabkan secara medis.
3. Tumbuhan obat potensial merupakan spesies tumbuhan yang diduga mengandung atau memiliki senyawa atau bahan biokatif berkhasiat obat tetapi belum dibuktikan penggunaannya secara ilmiah-medis sebagai bahan obat
Menurut Mustofa (2008), dalam perkembangan pemakaiannya sering dijumpai ketidak tepatan penggunaan OT karena kesalahan informasi maupun anggapan keliru terhadap OT dan cara penggunaannya. Dari segi efek samping memang diakui bahwa obat alam/OT memiliki efek samping relatif kecil dibandingkan obat modern tetapi perlu diperhatikan bila ditinjau dari kepastian bahan aktif dan konsistensinya yang belum dijamin terutama untuk penggunaan secara rutin 
III. PEMBAHASAN
A. Deskripsi Tanaman
Klasifikasi Tanaman Semangka
Kingdom : Plantae, Divisio : Spermathophyta, Sub division : Angiospermae, Class : Dicotyledonae, Ordo : Cucurbitales, Family : Cucurbitaceae, Genus : Citrullus, Species : Citrullus vulgaris Schrad (Lawrence, 1970).
Nama Lain (Hutton, 2004):
Daerah
Jawa: semongka, watesan, dan ghuleng-ghuleng, Sumatera: mandike, karamboja, kalambosa, atau kamandriki, Lampung: lamuja, Maluku: mendikai
Asing
Cina: Xi gua, English: watermelon, Prancis: melon d'eau, Dutch: wasserkurbis, Thailand : Taeng-mo, Malaysia: Tembikai, Filipina: Pakwan, Jepang: Suika
        Semangka diduga berasal dari daerah tropis dap subtropis Afrika. Tumbuh liar di tepi jalan, padang belukar, pantai laut, atau ditanam di kebun dan pekarangan sebagai tanaman buah (Info Kesehatan, 2007).
Buah ini berbentuk bola hingga bulat memanjang, dengan ukuran yang sangat bervariasi. Panjang buah sekitar 20-30 cm, diameter 15-20 cm, dengan berat antara 4-20 kg (Hapsoh dan Rahmawati, 2007).
Menurut Wihardjo (1993), kulit buahnya tebal dan berdaging, licin, warnanya bermacam-macam (hijau tua, kuning agak putih, atau hijau muda bergaris-garis putih). Daging buah warnanya merah, merah muda (pink), jingga (oranye), kuning, bahkan ada yang putih. Selain dimakan sebagai buah segar, juga dapat diminum sebagai jus.
Biji semangka berbentuk memanjang, pipih, dengan warna hitam, putih, kuning, atau cokelat kemerahan. Ada juga semangka yang tanpa biji (seedless). Biji semangka dapat diolah menjadi kuaci (Prihatman, 2000).
B. Khasiat Semangka
Diuretik
Semangka juga berfungsi untuk merangsang keluarnya air seni lebih deras sehingga sangat baik untuk mereka yang mengalami gangguan buang air kecil. Selain karena kandungan airnya yang tinggi, semangka mengandung komponen sitrulin dan arginin yang berperan dalam pembentukan urea di hati dari amonia dan CO2 sehingga dapat meningkatkan produksi urin (susukolostrum, 2008).
Antikanker
Warna merah pada semangka menandakan tingginya kadar likopen, salah satu komponen karotenoid seperti halnya betakaroten. Karena itu, makan semangka merah lebih disarankan daripada semangka kuning (Info Kesehatan, 2007).
Kekuatan likopen semangka dalam memerangi radikal bebas, jauh lebih ampuh. Kekuatannya sebagai antioksidan dua kali lipat dari betakaroten (provitamin A) dan sepuluh kali lipat dibandingkan vitamin E. Jadi reaksi likopen sebagai antioksidan di dalam tubuh, jauh di atas vitamin A, C, E, maupun mineral lainnya (susukolostrum, 2008).
Berbagai penelitian membuktikan bahwa likopen sangat bermanfaat untuk mencegah kanker, terutama kanker sel epitel seperti kanker prostat, kanker paru, kanker kolon, kanker ovarium, dan kanker payudara (susukolostrum, 2008).
Hasil penelitian di Italia membuktikan bahwa konsumsi likopen dosis tinggi bisa menurunkan risiko terkena kanker perut dan usus.
Penelitian yang dilakukan di Universitas Yale, AS, pada 473 pria, menemukan fakta bahwa pria yang bebas kanker prostat memiliki lebih banyak likopen dalam darahnya dibanding mereka yang sakit (Info Kesehatan, 2007).
Penelitian yang sama juga pernah dilakukan oleh Universitas Harvard pada tahun 2002 yang membuktikan bahwa laki-laki yang mengonsumsi likopen dalam jumlah banyak, memiliki risiko penyakit kanker Iebih rendah, khususnya kanker prostat. Sebuah studi di Iran seperti yang dilaporkan oleh Cook et al (1979) menunjukkan bahwa konsumsi likopen dapat mereduksi 39 persen kanker esofagus pada laki-laki. Helzlsouer et al (1996) melaporkan bahwa konsumsi likopen dapat mereduksi 7,4 persen risiko kanker rahim (Info Kesehatan, 2007).
Likopen juga dilaporkan dapat mengatasi kanker lambung yang disebabkan oleh infeksi Helicobacter pylori. Kehadiran likopen sangat bermanfaat untuk menghambat oksidasi yang disebabkan oleh bakteri tersebut. Menurut Atanasova (1997), likopen juga dapat menghambat pembentukan N-nitrosamin yang dapat menyebabkan kanker lambung (Info Kesehatan, 2007).
Menurut Giovannucci (1999) dalam Info Kesehatan, dilaporkan bahwa efektivitas likopen pada semangka maupun buah-buahan lain yang berwarna merah, jauh lebih baik daripada suplemen likopen. Hal itu disebabkan adanya mekanisme sinergi dengan komponen-komponen lain pada buah-buahan, seperti vitamin A dan vitamin C. Omega-3 pada seafood juga akan meningkatkan efektivitas dari likopen itu sendiri.
Rehabilitasi
            Likopen dapat mempertahankan fungsi mental dan fisik para lansia. Setelah masuk ke dalam aliran darah, likopen akan menangkap radikal bebas pada sel-sel tua dan memperbaiki sel-sel yang telah mengalami kerusakan. Sebagai senyawa fitokimia, likopen tidak memlliki sifat toksik, sehingga aman dikonsumsi tanpa menimbulkan efek samping (Info Kesehatan, 2007).
Antioksidan sangat diperlukan tubuh untuk mengikat radikal bebas yang sangat berbahaya bagi tubuh karena dapat mengoksidasi kolesterol jahat LDL, menyumbat pembuluh darah, dan berpotensi sebagai sumber penyakit jantung dan stroke. Biji semangka juga mengandung senyawa aktif kukurbositrin yang dapat memacu kerja ginjal dan menjaga agar tekanan darah tetap normal (Info Kesehatan, 2007).
Aphrodisiac dan Penambah Kesuburan
Senyawa asam amino sitrulin pada semangka juga dapat membantu meningkatkan produksi; nitrit oksida, yang berperan pada kemampuan ereksi pada pria. Sitrulin mudah diserap tubuh, sehingga konsentrasi maksimum di dalam darah lebih mudah dicapai (Info Kesehatan, 2007).
Percobaan yang dilakukan All India Institute of Sciences New Delhi pada 30 orang pria tidak subur berusia 23-45 tahun yang diberi 20 mg likopen dua kali sehari selama 3 bulan, menunjukkan peningkatan jumlah sperma, perbaikan struktur sperma, dan peningkatan pergerakan sperma (Info Kesehatan, 2007).
Dari 30 responden tersebut, 6 di antaranya berhasil menghamili istrinya. Dalam tubuh manusia, senyawa likopen disimpan dalam testis, kelenjar adrenal, dan prostat. Kandungan likopen pada semangka diperkirakan mencapai 4.100 mikrogram per 100 gram semangka (Info Kesehatan, 2007).
Sumber Vitamin
Semangka mempunyai kandungan vitamin A yang cukup baik. Konsumsi 100 gram vitamin A cukup untuk memenuhi 11,1 persen kebutuhan tubuh akan vitamin A. Selain itu, menurut The George Mateljan Foundation, kandungan vitamin C pada semangka termasuk dalam kategori excellent. Kombinasi dua vitamin tersebut membuat semangka dapat menjadi sumber antioksidan yang sangat baik (Info Kesehatan, 2007).
Semangka juga kaya kandungan vitamin B kompleks yang sangat diperlukan untuk produksi energi. The George Mateljan Foundation menggolongkan kandungan vitamin B kompleks pada semangka dalam kategori very good. Kandungan airnya yang tinggi juga menyebabkan semangka merupakan buah yang dapat digunakan sebagai pelepas dahaga (Info Kesehatan, 2007).
Diet
Jika anda sedang diet, maka semangka adalah teman baik anda. Buah ini bebas lemak dan memiliki kombinasi kadar gula terbatas dan kadar air berlimpah. Apalagi, buah yang satu ini bersifat cepat mengenyangkan di dalam lambung (susukolostrum, 2008).
C. Resep Sehat Semangka (Dj, 2009)
Hipertensi
-20 grm kulit semangka yang sudah dikeringan dan masak dengan air 200 ml. 
-Jika diminum secara teratur setiap hari selama sebulan penyakit darah tinggi bisa sembuh total.
Radang ginjal, sulit buang air kecil/ buang air besar kronis, dan penyakit gembur-gembur (dropysy)
-Kulit semangka yang segar 20 gr dipotong kecil dan dimasak dalam air mendidih dengan 200 ml air sehingga menjadi adonan seperti bubur. 
-Adonan ini sebaiknya disimpan dalam botol kaca yang tertutup rapi untuk dikonsumsi kemudian dianjurkan untuk memakan adonan tersebut satu sendok setiap hari sebelum sarapan selama sebulan.
 D. Deskripsi Tanaman Mengkudu
Klasifikasi Tanaman Mengkudu (Lawrence, 1970)
Kingdom : Plantae, Divisio : Spermathophyta, Sub division : Angiospermae, Class : Dicotyledonae, Ordo : Rubiales, Family : Rubiaceae, Genus : Morinda, Species : Morinda citrifolia L.
Nama Lain (Hapsoh dan Rahmawati, 2007)
Daerah :
Sumatera : eodu, eoru, keumudee, lengkudu, bangkudu, bengkudu, bakudu, bingkudu, pamarai, mangkudu, mengkudu, neteu, Jawa : kudu, cangkudu, kemudu, pace, kodhuk (Madura), Bali : wungkudu, Nusatenggara : tibah, wungkudu, ai kombo, manakudu, bakulu, Kalimantan : mangkudu, wangkudu, labanau
Asing : Indian mulberry, magic plant, ha bai ji (Cina), Morinde (Perancis),
tumbong-aso (Tagalog), nhoo baanz (Laos), yo ban (Thailand), nhau (Vietnam).
 
Mengkudu merupakan tumbuhan asli Indonesia, penyebarannya dari Asia tropis sampai ke Polynesia. Mengkudu termasuk jenis kopi-kopian. dapat tumbuh dari daerah dataran rendah sampai ketinggian 1.500 m di atas permukaan tanah. Tanaman ini mempunyai ketinggian 3 – 8 m, banyak bercabang dengan ranting bersegi empat (Lawrence, 1970).
Daun letakknya berhadapan bersilang, memiliki tangkai daun, bentuknya bulat telur sampai berbentuk elips, panjang daun 10 – 40 cm, lebar 5 – 17 cm, tebal, mengkilap, tepi rata, ujung runcing, pangkal menyempit, tulang daun menyirip, warnanya hijau tua (Tjitrosoepomo, 2005).
Bunga keluar dari ketiak daun, 5 – 8 dalam karangan berbentuk bonggol, dengan mahkota berbentuk tabung, bentuknya seperti terompet, berwarna putih. Bunga berbau harum. Buah mengkudu bertangkai, berbentuk bulat lonjong, berupa buah buni majemuk yang berkumpul menjadi satu sebagai buah yang besar (Tjitrosoepomo, 2005).
Panjang buah 5 – 10 cm, permukaan tidak rata berbenjol-benjol, warna hijau, jika masak berdaging dan berair, warnanya kulit pucat atau kuning kotor, berbau busuk, berisi banyak biji berwarna hitam (Tjitrosoepomo, 2005).
    E. Manfaat Mengkudu
Tabel 1. Pengobatan dengan Mengkudu (Chanan, 2008)
Kondisi
Jumlah Pasien
% tertolong
1. Kanker                                     
874
67
2. Sakit jantung                         
1058                  
80
3. Stroke
983
58
4. Diabetes, tipe 1&2
2434
83
5. Lesu
7931
91
6. Peningkatan daya seksual
1545
88
7. Penguatan otot
709
71
8. Kegemukan (obesitas)
2638
72
9. Tekanan darah tinggi
721
87
10. Perokok
447
58
11. Artritis
673
80
12. Nyeri
3785
87
13. Depresi
781
77
14. Alergi
851
85
15. Masalah pencernaan
1509
89
16. Masalal pernapasan
2727
78
17. Sulit tidur
1148
72
18. Lemah konsentrasi
301
89
19. Peningkatan perasaan sehat
3716
79
20. Kestabilan mental
2538
73
21. Sakit ginjal
2127
66
22. Stress
3273
71
Data di atas di sadur dari buku Liquid Island Noni(M. citrifolia ), The Tropical Fruit with 101 Medical Uses. » % tertolong adalah pasien yang mengalami peningkatan kesehatan atau merasakan adanya   perubahan dalam tubuh mereka balk secara obyektif maupun subyektif setelah rnengkonsumsi sari buah Mengkudu.
 Kandungan Kimia (Hapsoh dan Rahmawati, 2007)
Buah mengkudu mengandung alkaloid triterpenoid, skopoletin, acubin, alizarin, antraquinon, asam benzoate, asam oleat, asam palmitat, glukosa, eugenol, dan hexanal.
Akar mengandung damnacanthal, sterol, resin, asperulosida, morindadiol, morindin, soranjidol, anatraquinon, dan glikosida.
Kulit akar mengandung morindin, morindon, aligarin-d-methylether, soranjidiol, khlororubin, morindanigrin, antraquinon, monometil, eter, dan lain-lain.
Daun mengandung protein, zat kapur, zat besi, karoten, arginin, asam glutamate, tirosin, asam askorbat, asam ursolat, thiamin dan antraquinon.
Bunga mengandung glikosida antraquinon, dan acasetin-7-0-beta(+)-glukopiransoida. Tanaman ini juga mengandung minyak menguap asam capron dan asam caprylat
Efek Farmakologis dan Hasil Penelitian
Efek farmakologis mengkudu adalah menghilangkan hawa lembab pada tubuh, meningkatkan kekuatan tulang, pembersih darah, peluruh kencing (diuretic),  seluruh haid (emenagog), pelembut kulit, obat batuk, obat cacing (anthelmintik), pencahar, antiseptic (Setiawan, 1995).
Beberapa penelitian yang telah dilakukan untuk menguji efek farmakologis mengkudu adalah :
*Diuretik
Air perasan mengkudu dengan konsentrasi 10% sampai 40% dapat meningkatkan pengeluaran air seni dan elektrolit natrium serta kalium pada air seni tikus putih (Setiawan, 1995).
*Antihelmintik
Dengan metode grafik menurut Miller dan Tainer, analisa regresi dan korelasi, didapatkan harga EC50 dan selanjutnya potensi daya anthelmintik perasan buah mengkudu terhadap cacing Ascaridia galli secara in vitro dapat diketahui (Juliana, 1994).

*Meningkatkan Daya Tahan Tubuh

Penyelidikan klinis yang dilakukan oleh Dr. Schechter (Institut Pengobatan Alami di California) menghasilkan data-data penting tentang kemampuan sari buah Mengkudu, di antaranya yaitu merangsang produksi sel T dalam sistem kekebalan tubuh (sel T berperan penting dalam melawan penyakit); memperkuat sistem kekebalan tubuh, terutama makrofaset dan limfosit dari sel darah putih; menun­jukkan efek anti bakteri; mempunyai efek anti rasa sakit/nyeri (analgesik); menghambat pertumbuhan sel-sel pra kanker/tumor yaitu dengan kemampuannya menormalkan fungsi sel-sel yang abnormal (Chanan, 2008).
Mona Harrison, MD dari Boston University School of Medicine dan direktur medis pada D.C. General Hospiial,USA melaporkan bahwa Mengkudu meningkatkan fungsi kelenjar tiroid dan kelenjar timus, yang dipercaya bertindak melawan infeksi dan masalah-masalah yang berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh (Chanan, 2008).

*Menormalkan Tekanan Darah

Menurut Neil Solomon, MD.PhD, peneliti masalah kesehatan dari Amerika melaporkan bahwa buah Mengkudu mengandung sejenis fitonutrien, yaitu scopoletin yang berfungsi untuk memperlebar saluran pembuluh darah yang mengalami penyempitan. Hal ini menyebabkan jantung tidak perlu bekerja terlalu keras untuk memompa darah, sehingga tekanan darah menjadi normal (Chanan, 2008).
Menurut Chanan (2008), hasil uji coba pada hewan menunjukkan bahwa scopoletin menurunkan tekanan darah tinggi dan normal menjadi rendah (hipotensi yang abnormal). Namun demikian menurut Dewick (2003), scopoletin yang terdapat dalam buah Mengkudu dapat berinteraksi sinergis dengan nutraceuticals (makanan yang berfungsi untuk pengobatan) lain untuk mengatur tekanan darah tinggi menjadi normal, tetapi tidak menurunkan tekanan darah yang sudah normal. Tidak pernah ditemukan kasus di mana tekanan darah normal turun hingga mengakibatkan tekanan darah rendah (hipotensi).

*Melawan Tumor dan Kanker

Mengkudu terbukti secara signifikan memperpanjang umur-umur tikus yang terkena kanker dibanding dengan tikus-tikus yang tidak dirawat dengan Mengkudu. Singkatnya, hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa Mengkudu dapat menghambat pertumbuhan tumor. Menurut Dewick zat anti kanker/damnacanthal dalam ekstrak Mengkudu yang mampu menghambat pertumbuhan sel-sel kanker.
Menurut Dr. Judah Folkman dari Harvard University, Mengkudu bekerja sinergis dengan mikronutrien lain dalam menghamhat aliran darah yang menuju ke sel-sel tumor. Mekanismenya hampir sama dengan minyak squalen (dari hati ikan hiu) yang mengontrol pertumbuhan tumor otak dan memperpanjang usia tikus eksperimen dengan merusak alat-alat peredaran yang mensuplai darah menuju ke sel-sel tumor.

*Menghilangkan Rasa Sakit

Kemampuan buah Mengkudu sebagai zat analgesik telah dikenal dalam sejarah pengobatan tradisional, sehingga tanaman ini disebut "painkiller tree" atau "headache tree". Riset-riset ilmiah telah membuktikan efek menguntungkan dari Mengkudu untuk mengatasi rasa sakit. Pada tahun 1990, para peneliti menemukan adanya hubungan yang signifikan antara dosis ekstrak sari buah Mengkudu dengan aktifitas analgesik tikus­-tikus percobaan (umumnya, semakin banyak digunakan, efek analgesiknya akan semakin kuat).
Banyak teori yang menjelaskan tentang bagaimana mekanisme kerja Mengkudu menghilangkan rasa sakit. Salah satunya adalah teori Dr. Ralph Heinicke (ahli biokimia terkenal dari AS) yang mengatakan bahwa xeronine-lah yang berperan dalam menghilangkan rasa sakit. Hal ini dikaitkan dengan kemampuan xeronine menormalkan protein pada sel-sel yang abnormal, termasuk sel-sel jaringan otak, tempat berasalnya rasa sakit.
Beberapa kasus rasa sakit yang kronis seperti sakit kepala terus menerus, rasa sakit pada otot saraf dan nyeri sendi disembuhkan setelah mengkonsumsi sari buah Mengkudu.

*Anti-peradangan dan Anti-alergi

Senyawa scopoletin (hidroksi-metoksi-kumarin) sangat efektif sebagai zat anti-radang dan anti-alergi. Literatur-literatur kedokteran melaporkan keberhasilan pengobatan pada arthritis, bursitis, car-pal tunnel syndrome dan alergi dengan menggunakan scopoletin.
Bryant Bloss, MD, ahli ortopedi dari Indiana, AS melaporkan keberhasilan sari buah Mengkudu menyembuhkan sakit punggung yang dialaminya dan juga 15 orang pasiennya. Sementara itu, 8 orang pasiennya melaporkan bahwa sakit lutut (osteoarthritis) hampir tidak terasa selama mengkonsumsi sari buah Mengkudu.lami kemajuan dengan semakin bergnya batuk.
Beberapa pasien yang mengalami radang sendi juga mulai mengalami kemajuan secara nyata setelah minum sari buah Mengkudu. Beliau menawarkan sari buah Mengkudu sebagai makanan tambahan/suplemen, dan bukan sebagai obat kepada para pasiennya.

*Anti-bakteri

Hasil penelitian yang dimuat darn jurnal Pacific Science (vo1.4, tahun 1950) dalam Chanan (2008) dilaporkan bahwa Mengkudu mengandung bahan anti bakteri yang dapat digunakan untuk mengatasi penyakit jantung masalah pencernaan. Senyawa antraquinon yang banyak terdapat pada akar Mengkudu ternyata dapat melawan bakteri Staphylococcus yang menyehabkan infeksi pada jantung dan bakteri Shigella yang menyebabkan disentri.
Mengkudu bersifat anti bakteri terhadap: Bacil­lus subtilis, Escherichicr coli, Proteus morganii, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella montevdleo, Salmonella schotmuelleri, Salmonella typhi, Shigella dysenteriae, Shigella flexnerii, Shigella paraciysente­riae BH und III-Z, Staphylococcus aureus.
Dr. Robert Young, ahli mikrobiologi dari Utah, USA menemukan yeast molds dan jamur beserta racun yang dihasilkannya dapat menyehabkan sel-sel sakit karena derajat keasamannya (pH) meningkat. Dengan mengkonsumsi sari buah Mengkudu, keadaan tersebut dapat diatasi karena Mengkudu membantu mengatur keseimbangan pH tubuh, sehingga meningkatkan kernampuan tubuh menyerap vitamin-vitamin, mineral dan protein.

*Mengatur Siklus Suasana Hati (Mood)

Salah satu kemampuan lain yang dimiliki oleh seopoletin adalah dapat mengikat serotonin. Menurut Dr. Harrison (DC.General Hospital, USA)  dalam Chanan (2008) scopoletin dapat meningkatkan kegiatan kelenjar peneal yang terdapat di dalam otak, yang merupakan tempat dimana serotonin diproduksi dan kemudian digunakan untuk menghasilkan hormon melatonin.
Serotonin adalah salah satu zat penting di dalam butiran darah (trombosit) manusia yang melapisi saluran pencernaan dan otak. Di dalarn otak, serotonin berperan sebagai neutrotrcrnsmitter, penghantar sinyal saran dan prekursor hormon melatonin (Smeltzer dan Bare, 2006).
Sero­tonin dan melatonin membantu mengatur beberapa kegiatan tubuh seperti tidur, regulasi suhu badan, suasana hati (mood), masa pubertas dan siklus produksi sel telur, rasa lapar dan perilaku seksual. Kekurangan serotonin dalam tubuh dapat mengakibatkan penyakit migrain, pusing, depresi, bahkan juga penyakit Alzheimer (Stuart, 2007).

*Mengatur Siklus Energi Tubuh

Dr. Harrison dalam Chanan (2008) juga melaporkan bahwa perubahan frekuensi energi tubuh juga disebabkan oleh kegiatan positif sari buah Mengkudu. Efek yang ditimbulkan antara lain; dapat menstabilkan gula darah, mengurangi rasa sakit waktu menstruasi, mengurangi keinginan buang air kecil pada malam hari untuk pria yang mengalami pembengkakan prostat.
Menurut Dr. Heinicke (ahli biokimia dari AS) dalam Chanan (2008), xeronine juga turut berperan dalam proses siklus energi tubuh. Ia menjelaskan mekanismenya sebagai berikut, xeronine akan diserap pada tempat yang berdekatan dengan tempat penyerapan endorphin dan bertindak sebagai prekursor hormon (co-hormone) untuk mengaktifkan protein reseptor yang memberikan perasaan enak/nyaman. Akibatnya orang akan merasa enak dan memiliki banyak energi setelah mengkonsumsi sari buah Mengkudu.
F. Resep Sehat Mengkudu
1. Peradangan usus dan disentri
Bahan : Mengkudu kering 10 g, temulawak kering 15 g, sambung nyawa 7 g, kunyit kering 5 g, Rumput mutiara kering 10 g
Pemakaian :
Semua bahan dicuci bersih, kemudian direbus dengan 6 gelas air hingga tersisa 3 gelas. Ramuan diminum 3 kali sehari masing-masing sebanyak 1 gelas, satu jam sebelum makan (Mahendra, 2005).
2. Batuk rejan
Bahan : Buah mengkudu masak 1 buah, daun waru muda 6 lembar, daun jinten 10 lembar, umbi bidara upas ½ jari, madu 1 sendok makan
Pemakaian :
Semua bahan dicuci bersih lalu ditumbuh halus. Tambahkan ¾ cangkir air masak  dan 1 sendok makan madu. Diperas dan disaring. Diminum 2 kali sehari (Wijayakusuma, 1994).

3. Kencing manis
Bahan : Mengkudu kering 10 g, brotowali kering 10 g, sambiloto kering 10 g, kumis kucing kering 10 g, ciplukan kering 10 g, pulai kering 7 g
Pemakaian :
Semua bahan direbus menjadi satu dengan 9 gelas air hingga tersisa 5 gelas kemudian disaring dan diminum dalam keadaan hangat. Ramuan diminum satu jam sebelum makan sebanyak 3 kali sehari (Mahendra, 2005)
4. Kolesterol tinggi
Bahan : Buah mengkudu masak 1 - 2 buah, jahe merah 20 g, cuka apel 1 sendok makan, madu 1 sendok makan
Pemakaian :
Buah mengkudu dan jahe merah dicuci bersih tambahkan air secukupnya  kemudian diblender. Juice yang diperoleh ditambah cuka apel dan madu sambil diaduk hingga rata. Ramuan tersebut diminum secara teratur sekali sehari (Rukmana, 2006).

 IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan:
  1. Semangka dan Mengkudu dapat dipergunakan sebagai terapi komplementer
  2. Pemanfaatan semangka dan mengkudu dapat menekan biaya kesehatan dan meningkatkan kualitas kehidupan

B. Saran:
            Perawat dapat memberikan informasi yang benar tentang ketepatan penggunaan semangka dan mengkudu untuk peningkatan kualitas kesehatan masyarakat

 Agustina Ari Handayani